Cari Blog Ini

Kamis, 17 Februari 2011

GEEEEEEMMMMMEEEEESSSSSSSSSSSSSSSSSS



Kehidupannya semakin membuat orang lain gemes untuk ingin memilikinya kadang ada pikiran untuk membawanya kabur dalam waktu seharian, jangan pernah untuk mengembalikannya lagi....
Di Kolam Renang Air Panas GUCCI


Minggu, 23 Januari 2011

JADWAL MOTO GP 2011

Untuk para pengeemar motor GP Jadwl MotorGP seperti biasa, seri dimulai di Qatar yang berlangsung selama 4 hari…dan ditutup di Valencia…

March 20th – Qatar* – Losail
April 3rd – Spain – Jerez
April 24th – Japan – Motegi
May 1st- Portugal – Estoril
May 15th- France – Le Mans
June 5th – Catalunya – Catalunya
June 12th – Great Britain – Silverstone
June 25th – Netherlands** – Assen
July 3rd – Italy – Mugello
July 17th – Germany – Sachsenring
July 24th – United States*** – Laguna Seca
August 14th – Czech Republic – Brno
August 28th – Indianapolis – Indianapolis
September 4th – San Marino & Riviera di Rimini – Misano
September 18th – Aragon – Motorland
October 16th – Australia – Phillip Island
October 23rd – Malaysia – Sepang
November 6th – Valencia – Ricardo Tormo Valencia

* Night Race
** Saturday Race
*** Only MotoGP class

Selasa, 11 Januari 2011

Bocil




Dia dilahirkan pada tengah malam 1 September 2010, dengan berat 3,4 kg, panjang 50 cm dengan persalinan SC, setelah 24 jam menunggu persalinan normal tidak berjalan dengan baik sehubungan panggul yg tdk sesuai degan ukuran bayi yg mau lewat.

Keluhan

Hari ini, 10 Januari 2011, selama ini aku tidak pernah meneteskan air mata, namun apa yg terjadi hari ini air mataku mengalir di kedua mataku, walaupun ta ada isakan tangis seperti umumnya menangis, namun airmataku ga bisa aku bendung, terus mengalir, sampai membasahi mukaku.... sampai aku terlelap tidur, aku sembunyikan kesedihanku untuk buah hatiku, aku terus berusaha agar kelihatan tegar di mata buah hatiku....

Selasa, 04 Januari 2011

ANAK DENGAN GIZI BAIK ASET DAN INVESTASI BANGSA DI MASA DEPAN

Ibu memegang peranan penting dalam mendukung upaya mengatasi masalah gizi, terutama pada asupan gizi keluarga, mulai dari penyiapan makanan, pemilihan bahan makanan, sampai menu makanan. Ibu yang memiliki status gizi baik akan melahirkan anak yang bergizi baik. Anak yang bergizi baik menjadi aset dan investasi sumber daya manusia (SDM) bangsa kedepan. Karena itu penting ditingkatkan pengetahuan dan perilaku ibu dalam membentuk keluarga sadar gizi.
Dalam pencapaian target pembangunan MDG’s, salah satunya adalah mengurangi angka kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Indonesia dapat diukur berdasarkan indikator prevalensi gizi kurang.
Banyak upaya dilakukan untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia.
Data menunjukkan prevalensi gizi buruk terus mengalami penurunan dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun 2010 dan diharapkan di tahun 2015, prevalensi gizi buruk dapat turun menjadi 3,6%. Prevalensi anak balita gizi kurang dan buruk turun 0,5 % dari 18,4% pada 2007 menjadi 17,9% pada 2010.
gizi buruk
Faktor-faktor penyebab gizi buruk, yaitu asupan gizi dan pemahaman tentang makanan yang aman untuk dimakan, penyakit menular, lingkungan, akses terhadap pelayanan kesehatan dan pola asuh
Dr. Minarto, MPS, Direktur Bina Gizi Masyarakat menjelaskan Prioritas intervensi gizi ibu dan anak, dapat dilakukan melalui berbagai hal. yaitu :
Pertama, intervensi perubahan perilaku, seperti Pemberian ASI eksklusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) secara tepat, memantau berat badan teratur, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
asi_ekslusif
Kedua, suplementasi gizi mikro, mencakup asupan vitamin A, tablet Fe, dan garam beryodium. Ketiga, tatalaksana gizi kurang/buruk pada ibu dan anak, meliputi pemulihan gizi anak gizi kurang, pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil.
Masih banyak masalah yang terkait dengan gizi yang perlu perhatian lebih, diantaranya yaitu;
1) Stunting atau terhambatnya pertumbuhan tubuh. Stunting adalah salah satu bentuk gizi kurang yang ditandai dengan tinggi badan menurut umur diukur dengan standar deviasi dengan referensi WHO. Data WHO menunjukkan tinggi anak Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan tinggi anak dari negara-negara lain. Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, prevalensi anak balita pendek (stunting) 35,6 % atau turun 1,2 % dibandingkan 2007 (36,8 %);
2) Kesadaran tentang pentingnya keamanan pangan. Status gizi baik tergantung pada ketersediaan dan keamanan pangan. Data WHO menunjukkan 2,2 juta orang pertahun meninggal yang diakibatkan penyakit bersumber dari makanan, terutama makanan yang mengandung zat-zat berbahaya dan beracun.

Konsumsi ARA dan DHA pada BAyi dan Anak


Baby Drinking Milk
Picture 1. Baby Drinking Milk

Baby Breast Feeding
Picture 2. Baby Breast Feeding

Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi namun kadang kala ada bayi yang tidak beruntung mendapatkannya karena berbagai penyebab sehingga diperlukan susu formula yang kandungan nutriennya mendekati komposisi ASI.

Pada tahun tahun terakhir ini banyak dipasarkan makanan bayi, vitamin, telur, yang mengandung DHA dan atau ARA bahkan ada dalam bentuk tetes dan kapsul. melihat perkembangan diatas maka IDAI mempunyai kewajiban moral untuk membuat suatu rekomendasi tentang indikasi suplemen ARA-DHA sesuai evidence based yang ada.

Rekomendasi ARA dan DHA pada Bayi dan Anak
UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik dan UKK neurologi
PP IDAI 2006
Rekomendasi ini hanya ditujukan untuk bayi yang karena suatu sebab tidak mendapat ASI sama sekali atau sebagian saja :

1. Beri ASI eksklusif selama 6 bulan karena ASI merupakan nutrisi terbaik pada bayi dan juga mengandung DHA dan ARA dengan rasio yang paling untuk bayi secara individual

2. Bila bayi membutuhkan susu formula konsultasikan dengan dokter spesialis anak/ dokter umum/ petugas kesehatan untuk pemilihan jenis susu formula yang tepat

3. Pada bayi cukup bulan mungkin tidak didapatkan manfaat dari suplementasi DHA-ARA walaupun demikian susu formula ini aman untuk dikonsumsi

4. Pada bayi kurang bulan mungkin didapatkan manfaat dari suplementasi DHA-ARA walaupun demikian susu formula ini aman untuk dikonsumsi

5. Dianjurkan untuk menggunakan formula dengan rasio DHA : ARA = 1 : 1-2

6. Dianjurkan untuk menggunakan yang disuplementasi DHA dan ARA dengan DHASCO dan ARASCO sebagai sumbernya

Sumber : Ringkasan Rekomendasi IDAI 2006

Related review :
Conclusions. These findings do not support adding AA1DHA to formulas containing
10% energy as linoleic acid and 1% energy as a-linolenic acid to enhance growth,
visual acuity, information processing, general development, language, or
temperament in healthy, term infants during the first 14 months after birth. Pediatrics 2001;108:372–381;

Conclusion. These results showed a benefit of supplementing formulas for premature infants with AA and DHA from either a fish/fungal or an egg-TG/fish source from the time of first enteral feeding to 12 months’ CA. Pediatrics 2001;108:359 –371

DHA, Baikkah Untuk Tubuh?

DHA, Baikkah Untuk Tubuh?

DHA (docosahexaenoic acid, Indonesia: asam dokosaheksanoat) merupakan salah satu jenis asam lemak omega-3. Anggota omega-3 lainnya adalah α-linolenic acid (ALA) dan eicosapentaenoic acid (EPA). Ketiganya termasuk kelompok asam lemak tak jenuh.

DHA dapat ditemukan di hampir semua jaringan tubuh. Tetapi, konsentrasi tertinggi dijumpai pada otak, serabut saraf, dan retina mata.

Walaupun tubuh dapat memproduksi sejumlah kecil DHA, tetapi itu tidak cukup. Masih dibutuhkan DHA dari luar, yaitu dari makanan atau suplemen.

Sumber DHA

Ikan merupakan makanan yang kaya dengan DHA, terutama ikan air laut dingin, seperti salmon, sardin, tuna, dan mackerel. Bagusnya lagi, ikan tidak hanya mengandung DHA, tapi juga EPA, yang juga baik untuk kesehatan tubuh. Di samping ikan, DHA juga terdapat pada telur dan daging, tapi jumlahnya lebih sedikit.

Selain dari sumber makanan alami, DHA juga tersedia dalam bentuk suplemen. Ada dua jenis suplemen DHA, yaitu :

  1. Kapsul minyak ikan, mengandung DHA dan EPA.
  2. DHA yang diekstrak dari algae (tidak mengandung EPA).

Suplemen yang mengandung EPA tidak dianjurkan pada bayi dan anak kecil karena dapat mengganggu keseimbangan kadar DHA dan EPA dalam tubuh.

Bagi bayi, sumber DHA terbaik adalah ASI, terutama ASI dari ibu yang rajin makan makanan bergizi. Saat ini, sebagian susu formula yang beredar di pasaran juga telah ditambah dengan DHA. Tetapi harganya relatif mahal, dan sudah pasti tidak sebaik ASI.

Guna DHA

Pada anak, DHA berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapat cukup DHA mempunyai IQ yang lebih tinggi dan penglihatan yang lebih baik dibandingkan anak yang kekurangan DHA.

Pada wanita hamil, DHA memegang peran penting terhadap kesehatan ibu dan janin. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen minyak ikan kaya DHA sejak minggu ke-22 sampai dengan melahirkan, meningkatkan kadar omega-3 LC-PUFA pada bayi dan ibu.

Pada orang dewasa, DHA berguna untuk memelihara fungsi otak. Oleh karena itu, kekurangan DHA dapat menurunkan kemampuan kognitif, yang timbul seiring dengan bertambahnya umur. Selain itu DHA juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke.

Amankah?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) mengklasifikasikan asupan asam lemak omega-3 (DHA, EPA, atau ALA) sampai 3 gr sehari dianggap masih dalam batas aman.

Walaupun dianggap aman, DHA dapat menyebabkan efek samping, terutama jika dikonsumsi berlebihan. Efek samping tersebut antara lain diare, perut kembung, dan sendawa. Selain itu, DHA bisa memperpanjang waktu perdarahan. Bagi orang yang sedang mengkonsumsi obat-obat pengencer darah, silakan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi suplemen mengandung DHA.

MENAKAR KEBUTUHAN DHA

Menakar Kebutuhan AHA/DHA

Susu formula dengan DHA dan AHA belum tentu berefek maksimal untuk
pertumbuhan otak.

Istilah DHA (Docosahexaenoic acid) dan ARA (arachinoid acid) memang tak asing di telinga para ibu. Dalam iklan di televisi, terlihat sejumlah perusahaan susu berlomba-lomba menawarkan produk yang mengandung DHA dan ARA. Biasanya, susu jenis ini harganya lebih mahal dibanding susu formula tanpa asam lemak esensial itu.

Si ibu yang langsung kepincut dua komponen tersebut dan berkantong tebal langsung berburu produk itu. Padahal, menurut Dr Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K), meskipun banyak susu formula mengklaim mengandung DHA dan ARA, belum tentu semuanya akan memberi dampak yang baik dan maksimal untuk pertumbuhan otak anak.

"Hampir semua produsen susu formula memasukkan berbagai benda dalam produknya, tapi jumlahnya sedikit-sedikit. Padahal, bila perbandingan DHA dan ARA dalam susu formula tak tepat, hasilnya tak akan baik bagi anak. kecerdasannya tak akan meningkat," ucap Hardiono, Selasa lalu di Jakarta, dalam konferensi pres mengenai kadar asupan DHA ARA yang tepat dan stimulasi sejak dini untuk nilai IQ anak lebih baik.

Hardiono juga menjelaskan, DHA dan ARA sebenarnya terdapat secara alami dalam air susu ibu (ASI). Konsultan anak bidang neurologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, itu menambahkan, dibandingkan dengan susu formula yang diperkaya DHA dan ARA, kandungan kedua asam lemak yang terdapat dalam ASI masih jauh lebih baik segi kualitas ataupun kuantitasnya. Ini berbeda dengan ASI, kandungan DHA dan ARA secara alami memiliki komposisi yang tepat bagi tumbuh-kembang bayi.

DHA dan ARA merupakan asam lemak yang sangat dibutuhkan bayi untuk pembentukan otak, jaringan saraf, jaringan penglihatan, dan membantu pembentukan sistem imun pada bayi. Melalui ASI, bayi akan mendapatkan DHA dan ARA yang diperlukan sebagai komponen utama lemak membran sel dan merupakan asam lemak tak jenuh dalam rantai panjang utama sistem saraf pusat. DHA juga merupakan komponen utama membran sel fotoreseptor retina.

Otak tumbuh maksimal sejak 3 bulan terakhir dari masa kehamilan sampai kurang lebih usia 2 tahun. Karena itu, dalam periode tersebut, bayi sebaiknya mendapat DHA dan ARA dalam jumlah cukup, yang tentunya dapat diperoleh dari ASI. Agar mendapatkan kandungan DHA dan ARA yang tinggi dalam ASI-nya, ibu hamil bisa mengkonsumsi makanan yang menjadi sumber DHA, seperti ikan laut (contohnya salmon), minyak ikan, daging, dan telur.

Dari suatu penelitian, Dr Craig Jensen dari Departemen Pediatrik pada Baylor College of Medicine Houston, Texas, menyebutkan ibu-ibu di setiap negara memiliki kandungan DHA dan ARA dalam ASI berbeda-beda. Perbedaan ini lantaran asupan makanan yang dikonsumsi sehingga dapat mempengaruhi kadar kedua komponen tersebut. Walau tak ada angka yang pasti, Craig mengatakan DHA dan ARA yang terdapat dalam ASI wanita Indonesia tak jauh berbeda dengan negara tetangga, seperti Malaysia, yaitu sekitar 0,4 atau 0,5 persen dari total asam lemak. "¨Ya, sekitar 0,4 atau 0,5 persen dari total asam lemak. Tapi, meski jumlahnya sedikit, DHA dan ARA penting dalam perkembangan intelektual dan daya penglihatan anak,¨ ujar Craig.

Dia melanjutkan, dari beberapa hasil studi memperlihatkan asupan DHA dan ARA, baik bagi bayi prematur maupun bayi yang lahir normal, bermanfaat untuk perkembangan fungsi penglihatan dan perkembangan saraf otak pada bayi dan
balita.

Selain itu, penelitian yang dilakukan Dr E. Birch menunjukkan, anak-anak berusia 4 tahun yang mendapatkan asupan DHA dan ARA dengan kadar 0,36 persen DHA (90 miligram DHA/100 gram) dan 0,72 persen ARA (180 miligram ARA/100 gram) selama 4 bulan pertama memiliki tingkat IQ lebih tinggi 7 poin dibanding mereka yang tak mendapat asupan DHA dan ARA dalam kadar tersebut.
Di samping itu, studi lain menunjukkan bahwa skor IQ pada anak usia 4 tahun
berkorelasi kuat dengan skor IQ pada usia 17 tahun. "Hal ini menunjukkan adanya stabilisasi dalam jangka waktu panjang dan mengindikasikan nilai skor IQ yang kurang lebih sama tingginya pada usia dewasa," Craig Jensen menjelaskan.

Namun, selain asupan DHA dan ARA dalam kadar yang tepat, Hardiono mengingatkan perlunya stimulasi tepat yang diterapkan sejak dini untuk melatih kecerdasan anak. Menurut Hardiono, kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh rangsangan yang diterimanya pada tahun-tahun awal kehidupannya, terutama dua tahun pertama yang sering disebut dengan the golden years. Stimulasi yang tepat, baik jenis maupun frekuensinya, akan melatih pancaindra anak dan akan mempengaruhi kecerdasan.

Nah, jangan sia-siakan masa keemasan anak Anda. Sebab, bila terlambat, akan sulit memperbaikinya.

Senin, 27 Desember 2010

SETTING MODEM IM3

Tancapkan modem langsung ke komputer, karena modem ternyata mempunyai memori untuk menyimpan driver di dalamnya maka langsung saja install driver.

Buka program mobile connect > setting > network connection setting
CARA SETTING MODEM IM3

Number : *99#
APN : indosatgprs atau www.indosat-m3.net

bila menggunakan durasi
username dan password : indosat@durasi

bila menggunakan kuota
username : gprs pasword : im3
atau username dan password dikosongkan

yang lainnya kosongkan saja

Setting Koneksi Internet dengan Modem HP dan IM3

Koneksi Internet dengan Modem HP - IM3

Cerita berawal ketika saya ingin online lebih lama dengan Yahoo messenger. Karena cuma chatting saja maka sangat tidak efisien kalau harus pakai speedy yang time based. Jadi salah satu solusinya ya pake HP sebagai modem untuk internetan. Untuk HP nya saya memakai SE W660i dan IM3.

Langkah-langkah Setting Internetan dengan modem HP Sony Ericsson W660i dan IM3

  1. Pastikan Setting GPRS di HP dah aktif
  2. Install Sony Ericsson PC Suite (bawaan dari CD nya atau bisa download di website sony ericsson)
  3. Hubungkan HP dengan komputer (saya pakai kabel USB bawaan HP)
  4. Pilih Phone Mode (bukan File Transfer)
  5. Buka control panel > phone and modem options > select Modem HP > klik properties > pilih tab Advance > tambahkan kode berikut pada Extra Setting
  6. at+cgdcont=1,”IP”,”www.indosat-m3.net”
  7. Klik Ok
    Jalankan Sony Ericsson PC Suite yang sudah di intall
  8. pc-suite1

  9. Klik Mobile Networking Wizard
  10. Pilih New Connection > pilih packet switch data > next
  11. Pilih modem
  12. Isi Connection Name
  13. Untuk select provider, pilih yang manual setting
  14. Untuk APN isi dengan www.indosat-m3.net
  15. Isi User ID = gprs dan password = im3
    catatan : bisa juga diisi dengan ID = indosat dan password = indosat
  16. Setelah selesai setting, klik connect
  17. connecting

  18. Setelah connect maka akan muncul informasi di tray icon

connection-berhasil

Untuk biaya koneksinya saya belum hitung, Kalau nggak salah Rp. 1/kb untuk Im3 (atau dah naik ya) . Semoga panduan setting koneksi internet dengan modem hp dan kartu IM3 ini bisa bermanfaat.

update : untuk internetan IM3 time based tinggal ganti username dan passwordnya dengan indosat@durasi


Setting Internet murah IM3


im3-logo-pulsa-elektrik

Men setting internet im3 voucher 5000 sangatlah mudah…

Dalam kasus іnі ѕауа menggunakan HP Nokia N70 ѕеbаɡаі modem (hehe.. memanfaatkan apa yg ada, ԁаrі раԁа beli “modem khusus”,…. mahal)

Langkah2 nya:

1. Isi kartu im3 kаmυ dengan voucher/pulsa internet murah im3 biasanya kodenya (i5g), dapat 250 menit

2. Setelah ter isi voucher/pulsa internet, coba cek pulsa voucher tersebut, ketik: *555*1# lalu tekan Yes (аtаυ tombol buat angkat telp), lihat apakah ѕυԁаh terlihat tulisan “Pulsa INTERNET 250 menit”, kalau ѕυԁаh berarti proses pengisian voucher berhasil.

3. Install Software ԁі PC аtаυ Laptop υntυk menghubungkan modem dengan komputer аnԁа, dalam hаƖ іnі ѕауа menggunakan Nokia N70 jadi ѕауа menginstall Nokia PC Suite, ikuti prosesnya.. next..next ..fіnіѕh

4. Klik icon “Hubungkan dengan Internet”, klik tombol “Pengaturan”, drop down menu pilih “Nokia N70 USB Modem”, klik tombol berikutnya, pilih “Konfigurasi Sambungan Secara Manual”, Next isi kode2 ѕеbаɡаі berikut:

Titik Akses (APN): indosatgprs

Nama Pengguna (Username): indosat@durasi

Password: indosat@durasi

Selesai, sebelum berinternet ria, аnԁа harus memastikan bahwa аnԁа menggunakan voucher internet tersebut, caranya coba saja online selama30 detik setelah itu disconnect lalu cek *555*1# apakah durasi internet аnԁа berkurang 30 detik ԁаn jadi tidak 250 menit lagi? kalo iya berarti proses setting nya berhasil, selamat menikmati internet murah indosat im3 :)

*Catatan: oh iya lupa, ѕеbаɡаі syarat υntυk menjalankan voucher internet durasi іnі, paling tidak аnԁа mempunyai Rp.1000 pulsa bicara (tapi nanti dalam prakteknya pulsa bicara іnі tidak ԁі gunakan kok… tenang aja)

Human rights – a central concern for the global HIV response


On World AIDS Day 2010, the global community is focusing attention on protecting human rights of all people affected by HIV.

Health, HIV and human rights are inextricably linked. HIV responses need to ensure that human rights are protected and promoted. At the same time, the promotion and protection of human rights reduces HIV risk and vulnerability and makes HIV programmes more effective. Those populations most vulnerable and at risk of HIV are often the same populations prone to human rights violations. HIV policies and programmes in the health sector must promote human rights and empower individuals to exercise their rights.

The right to health is central to the HIV response. While we are encouraged by news that HIV epidemics are stabilizing in most regions of the world, it is clear that too many people still do not have access to essential HIV services that can prevent HIV infections and save lives. Antiretroviral treatment is still only available to one third of people in need. Even with the expansion of programmes to prevent mother-to-child transmission of HIV, in 2009 only 53% of pregnant women living with HIV were able to access treatment to prevent their infants from becoming infected.

Populations most at risk of HIV infection, including injecting drug users, sex workers, men who have sex with men and transgender people are also those populations who have the least access to much needed HIV prevention, treatment and care services. For example, coverage of harm reduction programmes remained limited in 2009. Among 92 countries that reported, 36 had needle and syringe programmes and 33 offered opioid substitution therapy.

People living with HIV should not only enjoy their right to health but also their right to access crucial social services such as education, employment, housing, social security and even asylum in some cases. Ensuring the rights of people living with HIV is good public health practice, by improving the health and well-being of those affected and by making prevention efforts more effective. A wide range of countries have enacted legislation to prevent discrimination against people living with HIV. However, in many cases, there is poor enforcements of such laws and stigmatization of people living with HIV and most-at-risk populations persist.

HIV-related stigma and discrimination continue to undermine HIV responses. The fear of being shunned by their families and friends, marginalized in their communities or denied employment and other services is often the reason why people do not present for HIV testing or attend HIV services. All too often it is the negative attitudes and behaviours of health workers that make health services inaccessible and unacceptable to those people at greatest risk of HIV infection and in greatest need of prevention, treatment and care services. People living with HIV, drug users, sex workers and men who have sex with men should be able to attend health services where they feel safe and are ensured the best possible and non-judgmental care.

The failure to promote and protect human rights increases vulnerability and can drive HIV epidemics. In sub-Saharan Africa, women and girls are particularly vulnerable to HIV; 80% of all women living with HIV are in this region. In Eastern Europe, over 50% of HIV cases are among people who inject drugs. In France, Netherlands and Spain, between 1/3 and 3/4 of new HIV infections are concentrated among migrants.

On the eve of a new decade, we need to address laws, policies, and regulations that increase HIV vulnerability and risk, impede access to health services or infringe on human rights, particularly for vulnerable and most-at-risk populations. In nearly 80 countries, same-sex sexual relations are criminalized, with 6 countries applying the death penalty. In over 50 countries and territories, there are restrictions on travel and residence for people living with HIV. In many countries drug users are sent to prison or compulsory rehabilitation programmes rather than being provided with effective treatment. The health sector has a critical role to play in promoting public health approaches and arguments when laws are made and strategies developed by other sectors.

Today, I call on all sectors to protect human rights, including the right to health, and to combat discrimination. Working with people living with HIV is critical for an effective HIV response and Member States need to be mindful of the commitments made in the 2006 Political Declaration on HIV/AIDS to promote better legal and social environments for people to access HIV testing, prevention and treatment.

WHO is firmly committed to the goal of achieving universal access to key HIV services. However, this will not be possible unless we make sure that the human rights of everyone, everywhere, are protected and promoted.

Jumat, 17 Desember 2010

Keluarga Siaga

Kelurahan Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa ( KLB) , kejadian bencana, kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi setempat, secara gotong royong.
Pengembangan Kelurahan Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat kelurahan, menyiap siagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Inti kegiatan Kelurahan Siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat.

Konsep dari Kelurahan Siaga adalah kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah- masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan, secara mandiri. Tujuan diadakannya kelurahan siaga ini adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri untuk sehat, yang artinya :
• Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat kelurahan tentang pentingnya kesehatan.
• Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat kelurahan terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan ( bencana,wabah,kegawat-daruratan dan sebagainya ).
• Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat
• Meningkatnya kesehatan lingkungan di kelurahan
• Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat kelurahan untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.

Suatu kelurahan dinamakan Kelurahan siaga bila mempunyai 8 indikator yaitu :
1. Adanya Forum Masyarakat Kelurahan
Adalah sekelompok anggota masyarakat kelurahan/Kelurahan yang sepakat untuk peduli memecahkan masalah dan mengembangkan program-program pembangunan antara lain kesehatan , di wilayahnya. Forum ini secara berkala melakukan pertemuan dan dipimpin oleh seorang ketua dan dibantu oleh sekretaris dan anggota. Jika di kelurahan/Kelurahan belum ada forum sejenis ini, maka kelurahan/kelurahan dapat memulai dari forum/lembaga yang sudah ada dan berfungsi di masyarakat misalnya : rembug kelurahan, kelompok yasinan/majelis taklim, kelompok karang taruna, kelompok peduli Kesehatan Ibu dan Anak dan lain sebagainya
2. Adanya Fasilitas Pelayanan kesehatan Dasar dan Sistem Rujukannya
Adalah upaya pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan oleh seorang petugas kesehatan sesuai dg kompetensinya , dibantu oleh kader yang berasal dari masyarakat setempat. Pelayanan kesehatan dasar disini berupa upaya promotif , preventif dan kuratif yang dilakukan di suatu tempat/ pos yang disediakan oleh masyarakat melalui pemberdayaan. Fasilitas tersebut bisa merupakan milik Pemerintah ataupun organisasi swasta ataupun perorangan. Lokasi sarana pelayanan kesehatan tidak harus di dalam kelurahan ( terutama bagi kelurahan di kota besar ) , yang penting masyarakat kelurahan tersebut mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara mudah. Jika tidak ada petugas kesehatan yang bertempat tinggal di kelurahan tersebut , maka tugas pendampingan dan penghubung dilakukan oleh Petugas Pembina Kelurahan dari Puskesmas yang secara berkala melakukan tugasnya di kelurahan tersebut.
3. Adanya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat yang dikembangkan
Wujud pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang berkembang sesuai kebutuhan setempat, misal Posyandu dg PAUD, TOGA, KPKIA (Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak),BKB (Bina Keluarga Balita), BKL (Bina Keluarga Lansia), Dasolin (Dana Sosial Bersalin), Dana Sehat, dsb.
4. Adanya Sistem Pengamatan Penyakit (Surveilance) berbasis Masyarakat
Adalah pengamatan yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat terhadap :
- Gejala atau penyakit menular potensial KLB, penyakit tidak menular termasuk gizi buruk serta faktor risikonya.
- Kejadian lain di masyarakat.
dan segera melaporkan kepada petugas kesehatan setempat untuk ditindaklanjuti.
Contoh penyakit :
• Penyakit menular ( TBC, HIV/AIDS, Frambusia, Kusta)
• Penyakit Menular Potensial KLB yaitu : Diare, Diptheri, Polio/AFP, Campak, Flu Burung, Thypus, Hepatitis, Malaria, DBD, dll

Faktor risiko antara lain :
- Adanya penolakan masyarakat terhadap imunisasi
- Adanya Kematian unggas
- Adanya tempat-tempat perindukan nyamuk
- Adanya migrasi penduduk (in / out)
- Perilaku yang tidak sehat.

Kondisi lain :
 faktor risiko tinggi ibu hamil,bersalin , menyusui dan bayi baru lahir
 Kejadian lain di masyarakat (Keracunan makanan, Bencana, Kerusuhan)

Bentuk pengamatan masyarakat ( anggota keluarga , tetangga, kader ) disesuaikan dengan tatacara setempat , misalnya pengamatan terhadap tanda penyakit :
- batuk yang tidak sembuh dalam waktu 3 minggu (untuk TBC)
- bercak putih di kulit yang mati rasa (untuk Kusta)
- ibu hamil yang mempunyai faktor risiko tinggi ( 4 terlalu, kedaruratan pada kehamilan sebelumnya,dll )
- bayi baru lahir yang kuning, tidak bisa menetek,dll
- balita yang tidak naik berat badannya 3 bulan berturut turut

Bentuk laporan adalah lisan atau menggunakan alat komunikasi yang ada di kelurahan ( telepon, telepon seluler ataupun Handy Talkie ) dan segera disampaikan kepada petugas kesehatan setempat atau Petugas Pembina Kelurahan

5. Adanya Sistem Kesiapsiagaan bencana dan Kegawatdaruratan berbasis masyarakat
Suatu tatanan yang berbentuk kemandirian masyarakat dalam kesiapsiagaan menghadapai situasi kedaruratan (misal bencana)
Masyarakat sudah dipersiapkan apabila terjadi situasi darurat maka :
 mereka tahu harus berbuat apa
 mereka tahu tempat untuk mencari maupun memberi informasi kemana.
Masyarakat diharapkan memperhatikan gejala alam pada lingkungan setempat mampu mengenali tanda akan timbulnya bencana dan selanjutnya melakukan kegiatan tanggap darurat sebagaimana pernah dilatihkan untuk menghindari / mengurangi jatuhnya korban.
Informasi mengenai tanda tanda bahaya tersebut berasal dari sumber yang bisa dipercaya, misalnya dari perangkat kelurahan ( yang memperolehnya dari kecamatan ), berita resmi di TV , Radio atau telepon dari Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota.
Penyebaran informasi mengikuti tatacara setempat, misalnya menggunakan kentongan, pengeras suara dari musholla atau dari mulut ke mulut

6. Adanya upaya menciptakan Lingkungan Sehat
Lingkungan yang bebas polusi, tersedia air bersih, sanitasi lingkungan memadai, perumahan pemukiman sehat, yaitu :
• Terpeliharanya kebersihan tempat-tempat umum dan institusi yang ada di kelurahan, antara lain : pasar, tempat ibadah, perkantoran dan sekolah.
• Terpeliharanya kebersihan lingkungan rumah : lantai rumah bersih, sampah tak berserakan, saluran pembuangan air limbah terawat baik
• Membuka jendela setiap hari.
• Memiliki kecukupan akses air bersih (untuk minum, masak, mandi dan cuci) dan sanitasi dasar.
• Mempunyai pola pendekatan pemberdayaan masyarakat untuk pemenuhan sanitasi dasar ( ada jamban, mandi cuci di tempat khusus )

7. Adanya Upaya mewujudkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
PHBS mempunyai 20 indikator lihat disini.
Artinya terdapat adanya masyarakat yang dapat menolong diri sendiri untuk mencegah dan menanggulagi masalah kesehatan, mengupayakan lingkungan sehat, memanfaatkan pelayanan kesehatan serta mengembangkan UKBM

8. Adanya Upaya mewujudkan Kadarzi (Keluarga Sadar Gizi)
Kadarzi mempunyai 5 indikator yaitu :
 Menimbang Berat Badan Secara teratur ,terutama untuk Balita
 Memberikan ASI Ekslusif pada bayi sampai umur 6 bulan
 Makan beraneka ragam makanan
 Mengkonsumsi garam beryodium
 Memberikan suplemen sesuai anjuran (misal Vitamin A pada balita dan Bufas)
Disini terdapat adanya upaya masyarakat dalam mewujudkan terlaksananya 5 indikator kadarzi. Seperti Pengadaan posyandu, Pendataan kadar garam yodium,dan penyuluhan.
Unsur-unsur yang akan terlibat dalam kegiatan siaga ini adalah :
• Semua individu dan keluarga di kelurahan, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah kelurahannya.
• Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut,seperti tokoh masyarakat. Termasuk tokoh agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader serta petugas kesehatan.
• Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana dan lain-lain, seperti Kepala Kelurahan, Camat, para pejabat terkait, LSM, swasta, para donatur dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam pengembangannya Kelurahan Siaga akan meningkat dengan membagi menjadi 4 Strata, yaitu :
1. Strata Pratama
Pada strata ini sebuah kelurahan siaga baru melakukan kegiatan 4 indikator kelurahan siaga
2. Strata Madya
Pada strata ini sebuah kelurahan siaga sudah melakukan 6 indikator kelurahan siaga
3. Strata Utama
Pada strata ini sebuah kelurahan siaga sudah melakukan kedelapan indikator kelurahan siaga

Pembentukan Kelurahan Siaga dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut :
• Pemilihan Pengurus, Kader dan fasilitator Kelurahan Siaga
Pemilihan Pengurus dan kader Kelurahan siaga dilakukan melalui pertemuan khusus para pimpinan formal kelurahan dan tokoh masyarakat serta beberapa wakil masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dan mufakat, sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku, dengan difasilitasi oleh Puskesmas.
• Pelatihan Kader dan fasilitator Kelurahan Siaga
Sebelum melaksanakan tugasnya, kepada pengelola dan kader kelurahan yang telah ditetapkan perlu diberikan orientasi atau pelatihan. Orientasi / pelatihan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan pedoman orientasi/pelatihan yang berlaku .
Materi orientasi/pelatihan mencakup kegiatan yang akan dilaksanakan di kelurahan dalam rangka pengembangan Kelurahan Siaga, yaitu meliputi Konsep Kelurahan Siaga, Penjelasan mengenai latar belakang, tujuan dan sasaran, penjelasan mengenai masing2 8 indikator kelurahan siaga.
• Penyelenggaraan Kegiatan Kelurahan Siaga
Secara berkala kegiatan Kelurahan Siaga dibimbing dan dipantau oleh Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan pengembangan Kelurahan Siaga selanjutnya secara lintas sektoral.
• Pembinaan dan Peningkatan
Mengingat permasalahan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor lain, serta adanya keterbatasan sumberdaya, maka untuk memajukan Kelurahan Siaga perlu adanya pengembangan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak.
Salah satu kunci keberhasilan dan kelestarian Kelurahan Siaga adalah keaktifan para kader. Oleh karena itu, dalam rangka pembinaan perlu dikembangkan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan pada kader agar tidak drop- out ,kader-kader harus diberi kesempatan seluas- luasnya untuk mengembangkan kreativitasnya. dibantu untuk memperoleh pendapatan tambahan, misalnya dengan pemberian gaji/insentif atau fasilitas agar dapat berwirausaha.
Untuk dapat melihat perkembangan Kelurahan Siaga, perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi. Berkaitan dengan itu, kegiatan-kegiatan di Kelurahan Siaga perlu dicatat oleh kader, misalnya dalam buku Administrasi Siaga

I. INDIKATOR KEBERHASILAN.

Keberhasilan upaya Pengembangan Kelurahan Siaga dapat dilihat dari empat kelompok indikatornya, yaitu :
• Indikator masukan
• Indikator proses
• Indikator keluaran dan
• Indikator dampak.

Adapun uraian untuk masing-masing indikator adalah sebagai berikut :
A. Indikator masukan.
Indikator masukan adalah indikator untuk mengukur seberapa besar masukan telah diberikan dalam rangka pengembangan Kelurahan siaga. Indikator masukan terdiri atas hal-hal berikut :
• Ada/tidaknya Forum Masyarakat Kelurahan
• Ada/tidaknya sarana pelayanan kesehatan serta perlengkapan / peralatannya.
• Ada/tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat.
• Ada/tidaknya tenaga kesehatan( minimal bidan ).
• Ada/tidaknya kader aktif
• Ada/tidaknya alat komunikasi yang telah lazim dipakai masyarakat yang dimanfaatkan untuk mendukung penggerakan surveilans berbasis masyarakat

A. Indikator Proses
Indikator proses adalah indikator untk mengukur seberapa aktif upaya yang dilaksanakan di suatu kelurahan dalam rangka pengembangan Kelurahan Siaga Indikator proses terdiri atas hal-hal sebagai berikut :
• Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Kelurahan.
• Ada/ tidaknya pembinaan dari Puskesmas
• Berfungsi/tidaknya UKBM yang ada
• Berfungsi/tidaknya Sistem Penanggulangan Kegawatdauratan dan bencana
• Berfungsi/tidaknya Sistem Surveilans berbasis masyarakat.
• Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah kadarzi dan PHBS
• Ada/tidaknya Upaya mewujudkan lingkungan sehat

B. Indikator Keluaran
Indikator Keluaran adalah indikator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan yang dicapai di suatu kelurahan dalam rangka pengembangan Kelurahan Siaga. Indikator keluaran terdiri atas hal-hal berikut :
• Cakupan pelayanan kesehatan dasar (utamanya KIA )
• Cakupan pelayanan UKBM- UKBM lain
• Jumlah kasus kegawatdaruratan dan KLB yang ada dan dilaporkan
• Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS
• Tertanganinya masalah kesehatan dengan respon cepat

C. Indikator Dampak.
Indikator dampak adalah indikator untuk mengukur seberapa besar dampak dari hasil kegiatan kelurahan dalam rangka pengembangan Kelurahan Siaga.
Indikator dampak terdiri dari atas hal-hal sebagai berikut.
• Jumlah penduduk yang menderita sakit
• Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia
• Jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia
• Jumlah balita dengan gizi buruk.
• Tidak terjadinya KLB penyakit
• Respon cepat masalah kesehatan